MALANG | DUTA PERISTIWA – Dalam momentum peringatan Hari Bahasa Isyarat Internasional yang jatuh setiap 23 September, Grand Mercure Malang Mirama menunjukkan komitmennya sebagai hotel ramah disabilitas dengan menggelar kegiatan edukatif berupa talkshow dan pelatihan bahasa isyarat gratis bagi karyawan serta masyarakat umum.
Kegiatan yang menggandeng Yayasan Omah Gembira ini mengusung tajuk “Indahnya Bincang Isyarat”, yang tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga sarana edukasi terkait advokasi hak kerja bagi penyandang disabilitas, khususnya teman tuli, serta pentingnya pelayanan publik yang inklusif.
Dalam kegiatan tersebut, peserta dibekali keterampilan komunikasi non-verbal melalui kelas bahasa isyarat dasar. Langkah ini dinilai strategis dalam menciptakan lingkungan pelayanan yang lebih ramah, terutama di sektor perhotelan yang bersentuhan langsung dengan beragam latar belakang tamu.
Cluster General Manager Grand Mercure Malang Mirama & Mercure Surabaya Grand Mirama, Sugito Adhi, menegaskan bahwa pelayanan inklusif bukan sekadar slogan, melainkan bagian dari budaya kerja.
“Kami percaya pelayanan terbaik lahir dari pemahaman dan kesetaraan. Melalui kolaborasi ini, kami ingin memastikan seluruh heartists siap memberikan pelayanan tanpa diskriminasi kepada semua tamu,” ujarnya.
Tidak hanya berfokus pada internal hotel, kegiatan ini juga membuka ruang dialog interaktif mengenai pentingnya aksesibilitas di ruang publik, termasuk fasilitas akomodasi di Kota Malang.
Sementara itu, Ketua Yayasan Omah Gembira, Riza Agung, menilai kolaborasi ini sebagai langkah nyata dalam membangun kesadaran kolektif tentang inklusivitas.
“Inklusivitas bukan hanya soal fasilitas fisik, tetapi bagaimana kita membangun komunikasi dan empati tanpa hambatan. Ini langkah luar biasa untuk membuka ruang kesetaraan,” tegasnya.
Melalui program ini, Grand Mercure Malang Mirama berharap dapat menjadi contoh bagi pelaku industri hospitality lainnya agar lebih aktif menciptakan lingkungan yang ramah bagi penyandang disabilitas.
Langkah progresif ini sekaligus menegaskan bahwa inklusivitas bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan dalam membangun layanan publik yang berkeadilan dan berorientasi pada kemanusiaan.
Reporter : Yuni Ektanta
Editor : Redaksi
Views: 0






