Bambang Suryanto Dorong UMKM, AI dan PMI Jadi Motor Ekonomi Malang Raya Megapolitan

MALANG | DUTA PERISTIWA – Wacana pengembangan Malang Raya sebagai kawasan megapolitan kini mulai mengarah pada pembahasan yang lebih konkret. Tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur dan konektivitas wilayah, namun juga menyentuh aspek krusial: siapa yang akan menjadi penggerak utama roda perekonomian kawasan.

Ketua Kadin Kabupaten Malang, Bambang Suryanto, menegaskan bahwa transformasi menuju megapolitan tidak akan optimal jika hanya bertumpu pada pembangunan fisik. Menurutnya, dibutuhkan ekosistem ekonomi yang terintegrasi dan mampu menghubungkan pemerintah, dunia usaha, UMKM, tenaga kerja, hingga perguruan tinggi.

“Kolaborasi lintas sektor dan adaptasi teknologi seperti artificial intelligence (AI), serta pemberdayaan ekonomi kerakyatan menjadi kunci utama jika Malang Raya ingin berdaya saing,” ujarnya.

 

Menariknya, Bambang tidak hanya menyoroti penguatan sektor UMKM, tetapi juga mendorong percepatan pemanfaatan teknologi AI serta pengembangan potensi Pekerja Migran Indonesia (PMI) sebagai kekuatan baru kewirausahaan daerah.

Gagasan tersebut rencananya akan disampaikan dalam forum Bincang Bisnis Bersama Dahlan Iskan: Kolaborasi Bisnis Menuju Malang Raya Megapolitan yang digelar Disway Malang bersama Bakorwil III Jawa Timur.

Lima Pilar Penguatan Ekonomi

Dalam paparannya, Bambang menyiapkan lima fokus utama sebagai fondasi penguatan ekonomi Malang Raya.

Pertama, pentingnya kolaborasi antarpemerintah daerah di wilayah Malang Raya agar program pembangunan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling terintegrasi.

Kedua, mendorong UMKM naik kelas melalui kemudahan perizinan, akses pembiayaan, perluasan pasar, serta penguatan jaringan usaha.

Ketiga, transformasi teknologi, termasuk pemanfaatan AI, yang harus diimbangi dengan peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan dan pelatihan.

Keempat, konsep Migrantpreneur, yakni mendorong PMI yang kembali ke daerah untuk menjadi wirausahawan dengan memanfaatkan pengalaman, keterampilan, serta jaringan internasional yang dimiliki.

Kelima, penguatan jaringan bisnis lintas sektor melalui forum dan pertemuan rutin antar pelaku usaha guna membuka peluang kolaborasi dan investasi.

Megapolitan Tak Cukup Infrastruktur

Sejalan dengan itu, Kepala Bakorwil III Malang, Asep Kusdinar, sebelumnya menegaskan bahwa konsep megapolitan tidak sekadar memperluas kawasan perkotaan, melainkan harus mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang saling terhubung.

“Kami mulai membangun fondasi Malang Raya yang terkoneksi dengan Jalur Lintas Selatan, sejalan dengan kebijakan nasional dan provinsi,” ungkapnya.

Menurut Asep, konektivitas wilayah harus diiringi sinergi yang kuat agar potensi masing-masing daerah dapat saling mendukung dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Dunia Usaha Jadi Kunci

Dalam konteks tersebut, keterlibatan dunia usaha dinilai menjadi faktor penentu. Tanpa penguatan pelaku ekonomi, pembangunan kawasan berisiko hanya menghasilkan konektivitas fisik tanpa dampak signifikan bagi masyarakat.

Sebaliknya, ketika infrastruktur didukung oleh UMKM yang kuat, pemanfaatan teknologi, tenaga kerja terampil, serta jaringan investasi yang luas, maka konsep megapolitan diyakini mampu memberikan dampak nyata.

Forum Strategis Dihadiri Tokoh Nasional

Bambang dijadwalkan menjadi salah satu panelis dalam forum yang akan digelar pada Kamis, 10 September 2026, di Gedung Arjuno Bakorwil III Malang.

Dalam forum tersebut, ia akan berdiskusi bersama Ketua PHRI Kota Malang Agoes Basoeki dan CEO COOSAE Rakhmad Hardiyanto. Kegiatan ini juga akan menghadirkan Kepala Bakorwil III Jatim Asep Kusdinar, kepala daerah se-Malang Raya, pimpinan perguruan tinggi, serta pelaku usaha.

Diskusi tersebut akan dimoderatori oleh tokoh pers nasional sekaligus pengusaha, Dahlan Iskan.

Rangkaian kegiatan menjadi bagian dari peringatan HUT ke-2 Disway Malang, yang diawali dengan olahraga bersama sejak pukul 06.00 WIB melibatkan sekitar 100 peserta dari Perwosi Malang Raya dan Bakorwil III Jatim.

Ujian Nyata Menuju Megapolitan

Forum ini diharapkan tidak berhenti pada wacana semata, melainkan mampu menjawab tantangan riil di lapangan. Mulai dari bagaimana UMKM bisa naik kelas, pemanfaatan AI dalam dunia usaha, hingga mendorong PMI menjadi wirausahawan.

Jika konektivitas adalah jalannya, maka UMKM, teknologi, tenaga kerja, investasi, dan kolaborasi adalah mesin penggeraknya.

Kini, pertanyaannya: siapkah Malang Raya bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi baru yang kompetitif, atau hanya menjadi kawasan yang terkoneksi tanpa dampak signifikan?

Reporter : Yuni Ektanta

Editor : Redaksi

Views: 0

BACA JUGA  Kapolri bersama Panglima TNI Cek Venue KTT-AIS Forum 2023
Verified by MonsterInsights