TUBAN, dutaperistiwa.com – Lagi dan lagi kegiatan Mobilisasi Rig Moving PT PDSI yang dilaksanakan pada Kamis dini hari (08/05/2025) saat memasuki wilayah Distrik Kawengan sekira pukul 00.30 WIB kembali dihadang puluhan warga tepatnya saat melintas di wilayah Desa Banyuurip Kecamatan Senori Kabupaten Tuban.
Penghadangan dilakukan karena warga merasa manajemen PT PDSI selama ini dianggap kurang bertanggung jawab atas segala kerugian dari warga masyarakat yang terdampak langsung atas adanya kegiatan tersebut.
Menurut Candra salah seorang warga dan merupakan salah satu tokoh pemuda Desa Banyuurip saat diwawancarai awak media ini memberikan penjelesan, “kita akan tahan dua armada ini mas, agar pihak yang bertanggung jawab atas adanya kegiatan ini segera merespon dan memberikan hak warga desa yang terdampak akibat adanya Rig Moving ini segera terealisasi, jarena kami selama ini sudah cukup lunak dan bertoleransi terhadap pihak PT PDSI, namun kelunakan dan toleransi kami justru di pakai main-main oleh pihak mereka, “jelasnya.
Sementara Kades Banyuurip, Sugiyanto saat dikonfirmasi terkait penghadangan yang dilakukan oleh warganya, melalui telpon selular juga turut membenarkan apa yang dilakukan oleh warganya.
Sugiyanto mengatakan kepada awak media ini melalui telpon selular, “penghadangan itu benar adanya, dan saya sebagai kepala desa tetap mendukung warga selama mereka berada dalam jalur yang benar dan tidak bertolak belakang dengan hukum. Jujur saja memang kegiatan Rig Moving milik PT PDSI ini terkesan kurang profesional dalam pelaksanaanya dan itu tetbukti dengan banyaknya keluhan dari warga yang sampai hari ini masih banyak yang belum terealisasi, “ungkap kades Sugiyanto kepada dutaperistiwa.com.
Memang tidak bisa dibenarkan dengan berbagai dalih apapun, seharusnya PT PDSI yang merupakan anak perusahaan dari PT Pertamina Hulu Energi seharusnya bertanggung jawab penuh atas segala dampak yang timbul dan terjadi di dalam masyarakat akibat dari kegiatan rig moving, tetapi justru yang terjadi di lapangan PT PDSI diduga bermain main dan menimbulkan kesan tidak prrofesional dalam mengendalikan mobilisasi. (Marlik)






