Jejak Sejarah Raden Bagus Lancing di Desa Clebung, Warga Lestarikan Tradisi Manganan dan Doa Bersama

BOJONEGORO, dutaperistiwa.com – Jejak sejarah penyebaran agama Islam dan tradisi leluhur masih terus dijaga oleh masyarakat Desa Clebung, Kecamatan Bubulan, Kabupaten Bojonegoro. Berbagai kisah yang dituturkan secara turun-temurun menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat hingga saat ini.

Salah satu tokoh yang dikenang masyarakat  Clebung adalah Raden Bagus Lancing Kusumo, yang dikenal sebagai salah satu penyebar agama Islam di wilayah Bojonegoro selatan. Dari cerita tutur di masyarakat, Raden Bagus berasal dari Jawa Tengah.

Dalam perjalanan dakwahnya, Raden Bagus Lancing Kusumo disebut berseberangan dengan Belanda. Karena tidak sepaham, ia kemudian dikejar hingga akhirnya sampai di wilayah Bubulan, tepatnya di Desa Clebung.

BACA JUGA  Senam Bugar dan Jalan Nordic Semarakkan HUT ke-3 KJNI Cabang Blora

Hingga kini, makam Raden Bagus Lancing Kusumo masih berada di Clebung dan menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat. Sebagai bentuk penghormatan dan untuk mengenang tokoh ini, masyarakat sekitar secara rutin menggelar doa bersama setiap malam Jumat Pahing berdasarkan penanggalan Jawa.

Juru kunci makam, Mbah Sipo, menuturkan terdapat keterkaitan antara Raden. Bagus Lancing dengan sejarah Kasultanan Pajang, yakni masih keturunan Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir. Dalam cerita yang diwariskan, banyak orang dari luar Bojonegoro yang berdoa di makam. Orang-orang tersebut yang kemudian membangun pagar makam.

BACA JUGA  Kakang Mbakyu Duwis 2025 Ajang Representasi Generasi Muda yang Kreatif, Inovatif dan Percaya Diri Promosikan Pariwisata Blora, Ini Juaranya !

“Menurut sejarah, beliau dari Kasultanan Pajang. Cucu Kasultanan Pajang, Sultan Hadiwijaya, cucunya Jaka Tingkir. Saya sendiri juru kunci keturunan ketujuh,” tutur Sipo.

Tradisi yang diwariskan tersebut juga masih dilakukan masyarakat hingga kini. Di antaranya kegiatan mengaji yang dilaksanakan pada Jumat Pahing maupun Jumat Legi. Masyarakat juga mempertahankan tradisi manganan atau sedekah bumi sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan ungkapan rasa syukur.

Dalam menjalankan tradisi tersebut, terdapat sejumlah ketentuan adat yang masih dipegang masyarakat. Salah satunya, masyarakat mengenakan sarung saat mengikuti kegiatan. Sementara dalam pembangunan rumah, terdapat kepercayaan bahwa rumah tidak diperbolehkan menghadap ke arah utara maupun barat. Ketentuan tersebut dipercaya dan dijaga dalam satu lingkungan RT.

BACA JUGA  Cantika Wahono Dinobatkan Sebagai Ibunda Guru oleh PGRI Bojonegoro, Terus Berkolaborasi Majukan Pendidikan

Keberadaan makam Raden Bagus Lancing Kusumo, cerita sejarah Kasultanan Pajang, serta berbagai tradisi yang masih dijalankan masyarakat menunjukkan kekayaan sejarah dan kearifan lokal Desa Clebung.

Juru kunci bersama masyarakat turut menjaga keberlangsungan cerita dan tradisi tersebut agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.

Redaksi

Views: 0

Verified by MonsterInsights