MALANG, dutaperistiwa.com – Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Malang, dr. Husnul Muarif, mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi penularan virus Nipah, meskipun hingga saat ini belum ditemukan kasus virus tersebut di Indonesia.
Virus Nipah pertama kali teridentifikasi pada tahun 1998–1999 di wilayah Nipah, Negeri Sembilan, Malaysia. Sejak saat itu, sejumlah negara seperti India, Bangladesh, dan Malaysia melaporkan adanya kasus infeksi virus yang tergolong zoonosis tersebut.
“Untuk Indonesia sendiri memang belum ada laporan kasus virus Nipah. Namun kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan, karena reservoir atau inang utama virus ini adalah kelelawar,” ujar dr. Husnul saat diwawancarai Duta Peristiwa, Senin (2/2/2026).
Menurut dr. Husnul, virus Nipah tidak menular melalui udara. Penularan umumnya terjadi melalui perantara makanan yang telah terkontaminasi oleh kelelawar, terutama buah-buahan. Kelelawar yang memakan buah dapat meninggalkan bekas gigitan atau air liur, kemudian buah tersebut jatuh ke tanah dan dikonsumsi manusia atau hewan ternak.

“Buah yang sudah dimakan kelelawar lalu jatuh ke tanah, atau dimakan hewan lain kemudian hewan tersebut dikonsumsi manusia, itu bisa menjadi jalur penularan,” jelasnya.
Lebih lanjut, dr. Husnul menerangkan bahwa masa inkubasi virus Nipah berkisar antara tiga hingga dua belas hari setelah virus masuk ke dalam tubuh. Gejala awal umumnya menyerupai flu, seperti demam, sakit kepala, dan nyeri otot selama sekitar satu minggu.
“Pada minggu kedua, gejalanya bisa berkembang menjadi gangguan saraf, gangguan pernapasan, hingga kondisi sistemik yang lebih berat. Ini yang harus benar-benar diwaspadai,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa di Kota Malang masih terdapat populasi kelelawar, terutama saat musim buah seperti mangga. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko penularan apabila masyarakat tidak berhati-hati dalam mengonsumsi makanan.
“Warga Kota Malang kami imbau untuk tidak mengonsumsi buah yang jatuh, apalagi yang terlihat bekas gigitan kelelawar. Selain itu, daging harus dimasak hingga benar-benar matang untuk meminimalkan risiko penularan penyakit,” pesannya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan Kota Malang memastikan akan terus melakukan pemantauan serta sosialisasi kepada masyarakat terkait pencegahan penyakit zoonosis. Upaya ini dilakukan seiring dengan meningkatnya kewaspadaan nasional terhadap potensi munculnya penyakit menular dari hewan ke manusia.
Dr. Husnul juga menegaskan bahwa hingga saat ini kondisi Kota Malang masih aman dan tidak ditemukan adanya kasus virus Nipah.
“Kami pastikan Kota Malang masih aman. Masyarakat tidak perlu panik, namun tetap waspada dan menerapkan pola hidup sehat,” pungkasnya. (Yuni)
Views: 2






