BLORA, dutaperistiwa.com – Tradisi nyekar atau ziarah kubur menjelang Hari Raya Idul Fitri kembali membawa berkah bagi para penjual bunga di wilayah Cepu dan sekitarnya. Seperti yang terlihat di sepanjang trotoar Jalan Pasar Cepu, sejak beberapa hari terakhir hingga Rabu malam (18/03/2026), deretan pedagang bunga memenuhi kawasan tersebut.
Fenomena ini memang menjadi pemandangan rutin setiap akhir bulan Ramadhan. Masyarakat yang hendak berziarah ke makam keluarga biasanya membeli bunga tabur, seperti mawar, melati, dan kenanga, yang diyakini sebagai bagian dari tradisi penghormatan kepada leluhur.

Sejak empat hari terakhir, para penjual bunga mulai memadati trotoar Jalan Pasar Cepu. Mereka datang dari berbagai daerah, termasuk dari wilayah Kabupaten Bojonegoro, demi mengais rezeki musiman yang hanya datang menjelang Lebaran.
Meski harus menghadapi keterbatasan, seperti tidur di emperan toko dan bertahan dengan kondisi seadanya, para pedagang tetap semangat menjajakan dagangannya. Harapan mendapatkan penghasilan lebih di momen menjelang Idul Fitri menjadi motivasi utama mereka.
Salah satu penjual bunga, seorang nenek asal Ngambon, Bojonegoro, mengaku sudah mulai berjualan sejak tiga hari lalu. Kepada awak media, ia menyampaikan bahwa penjualan tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Alhamdulillah tahun ini agak lumayan, lebih ramai dari tahun kemarin,” ujarnya.
Ia juga menuturkan bahwa dirinya rutin mulai berjualan saat memasuki malam-malam akhir Ramadhan, khususnya setelah malam ke-21 atau yang biasa disebut masyarakat sebagai “maleman”.
“Biasanya mulai maleman sudah ramai yang cari bunga untuk nyekar, jadi saya mulai jualan dari malam itu,” tambahnya.
Tradisi nyekar menjelang Idul Fitri memang masih sangat kuat di tengah masyarakat, khususnya di wilayah Cepu dan sekitarnya. Selain menjadi bentuk penghormatan kepada keluarga yang telah wafat, kegiatan ini juga menjadi momen refleksi diri sebelum merayakan hari kemenangan.
Dengan meningkatnya aktivitas masyarakat yang berziarah, para penjual bunga pun turut merasakan dampak positifnya. Meski sederhana, keberadaan mereka menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi tahunan yang sarat makna tersebut. (Goen)






