Perkuat Sinergitas, Pengurus APTRI Blora Gelar Silaturahmi dengan Kapolres

BLORA, dutaperistiwa.com – Dilandasi spirit Man Jadda Wajada, para pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora di bawah komando Drs. H. Sunoto melakukan silaturahmi ke Kantor Kepolisian Resor Blora (Polres Blora), Senin (18/5/2026)

Kedatangan pengurus APTRI disambut langsung oleh Kapolres Blora, AKBP Wawan Andi Susanto, S.H., S.I.K., M.H., yang didampingi oleh Wakapolres Blora Kompol Slamet Riyanto, SH.

Suasana pertemuan tersebut berlangsung bernuansa kekeluargaan penuh rasa keakraban dan kegembiraan. Mengawali pembicaraan, H. Sunoto mengutarakan bahwa selain ingin bersilaturahmi, ia menyampaikan ucapan terima kasih karena di tengah kesibukan yang padat, Kapolres masih kerso (berkenan) meluangkan waktu untuk menerima rombongan dari APTRI yang selama ini selalu ngrepoti Kapolres.

“Seperti yang telah terjadi ketika Aksi Damai ribuan petani tebu yang mengajukan petisi tiga tuntutan kepada Dirut Perum Bulog pada tanggal 2 April 2026 di Alun-Alun Kota Blora. Berkat dukungan dan bantuan dari Bapak Kapolres dan Bapak Dandim, agenda aksi damai tersebut bisa berjalan tertib, lancar, damai, dan kondusif,” ucap Sunoto.

Bahkan, Kapolres aktif memimpin sendiri dan langsung terjun ke lapangan. Hal ini menjadi wujud nyata dalam mengimplementasikan Slogan Polres HEBAT, yang memiliki arti bahwa semua anggota Polres Blora harus hadir “Berbuat Bermanfaat dalam semua pelaksanaan tugas di masyarakat”.

BACA JUGA  Sinergi TNI-Polri Terus Diperkuat Untuk Pengamanan Idulfitri 1447 H di Blora

Disamping itu, Ketua APTRI juga mohon arahan dan dukungan kepada Kapolres berkenaan dengan upaya dari para pengurus APTRI untuk menyelamatkan tebu petani Blora masa giling 2026 yang akan dikirim ke berbagai pabrik gula di luar Kabupaten Blora.

Langkah ini diambil setelah pabrik gula PT GMM Bulog tidak beroperasi karena dua buah boiler rusak berat dan belum diperbaiki.

Selain itu, komitmen dari Dirut Perum Bulog untuk membeli tebu petani frangko pabrik gula GMM dengan harga sesuai ketentuan pemerintah belum bisa dipenuhi.

Oleh karena itu, pengurus sangat membutuhkan dukungan bila dalam proses penampungan hasil tebu petani nanti ada berbagai pihak di sekitar pabrik gula PT GMM Bulog yang merasa terganggu.

Di luar dugaan, secara spontanitas Kapolres merespon secara positif harapan dari para pengurus APTRI dengan ucapan yang melegakan hati.

“Apa yang bisa saya bantu untuk para pengurus APTRI dan para petani tebu saat ini ?” ucap Kapolres yang dikenal sangat dekat dengan para ulama dan masyarakat tersebut.

BACA JUGA  Stok Pupuk untuk Petani Bojonegoro Aman, Jadwal Distribusi Sesuai Masa Tanam

Seketika itu juga, melalui pesawat telepon, Kapolres langsung berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait agar rencana mulia untuk menyelamatkan hasil panen tebu petani 2026 oleh pengurus APTRI bisa berjalan lancar dan sukses.

Kemudian, Kapolres membuka peluang untuk mendengar unek-unek dari pengurus APTRI yang hadir.

Agus Joko Susilo, mantan kepala desa yang turut hadir, menyampaikan bahwa saat ini kalau tidak ada solusi dalam membantu petani tebu untuk mengatasi penyerapan hasil panen tebu, dapat dipastikan petani tebu akan mengalami kiamat kubro—penderitaan yang berkepanjangan.
Ibarat dalam peribahasa, sudah jatuh tertimpa tangga.

Sebenarnya, sesuai dengan komitmen, semua itu adalah tanggung jawab dari pihak manajemen PT GMM Bulog. Sayangnya, saat ini budaya endokusumo (menghindar) sedang menjadi tren baru.

Bahkan yang lebih menyedihkan, muncul ucapan satir, “Gajah di pelupuk mata tidak tampak, tetapi tikus di seberang lautan tampak”.

Hal ini kemudian ditimpali oleh Ir. Wahyuningsih, mantan Kepala Tanaman pabrik gula GMM. Ia menyatakan bahwa tutupnya pabrik gula GMM menciptakan ketidakseimbangan supply dan demand, sehingga harga tebu Blora sudah tidak memiliki nilai tawar yang berdampak pada jatuhnya harga tebu.

BACA JUGA  Pemkab Bojonegoro Telah Salurkan Insentif Bagi Ribuan Marbot Periode Awal Tahun 2026

Apalagi petani harus menjual tebu keluar dari Kabupaten Blora tanpa adanya subsidi biaya angkut.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, tinggal menunggu waktu nasib petani tebu akan mengalami kehancuran. Muncul ungkapan ngenes bahwa tanam tebu hanya akan deder kere (menyemai kemiskinan).

Sementara itu, Hairul Anwar sangat berharap adanya dukungan moral dari Kapolres Blora untuk kegiatan penyelamatan tebu petani oleh APTRI, di mana lokasi penampungan tebu tersebut berada di depan Gudang A pabrik GMM.

Upaya penyelamatan ini juga menggunakan mantan tenaga kerja dari PT GMM Bulog yang saat ini sudah dirumahkan. Para pengurus berharap, gonjang-ganjing nasib para petani tebu yang saat ini di ujung kebangkrutan segera didengar oleh Presiden Prabowo Subianto dan mendapat solusi terbaik, seiring dengan tekad kuat beliau dalam mewujudkan program swasembada gula nasional pada tahun 2027.

Redaksi

error: Content is protected !!
Verified by MonsterInsights