Mohon Kerahayuan Jagat, Umat Hindu di Malang Gelar Yadnya Mapag Toya di Pantai Ngliyep

Ramona, penulis

MALANG I DUTA PERISTIWA – Yayasan Gana Sidhi Sangkara bersama umat Hindu di Malang menggelar Upacara Dewa Yadnya Mapag Toya di Pantai Ngliyep, Kabupaten Malang, Senin (19/10/2026). Upacara yang dilaksanakan pada Soma Wage Wuku Dukut, Sasih Kalima, ini menjadi wujud sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus memohon kerahayuan jagat, turunnya hujan, serta keharmonisan alam semesta.

Upacara yang dipimpin Ida Bhujangga Satya Dhama dari Pasraman Isyana Vishnu Vardhana, Malang, tersebut dilaksanakan di tengah keprihatinan terhadap kondisi alam akibat kemarau berkepanjangan, berkurangnya sumber-sumber air, serta kebakaran yang kembali melanda sejumlah kawasan hutan dan gunung, termasuk Gunung Kawi dan Gunung Bromo.

Ramona, penulis

Dalam ajaran Hindu, air merupakan unsur utama penopang kehidupan. Melalui yadnya ini, umat memanjatkan doa dan menghaturkan persembahan suci kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Sang Hyang Batara Wisnu dan Sang Hyang Batara Baruna.

Sang Hyang Batara Wisnu dikenal sebagai manifestasi Tuhan dalam fungsi pemeliharaan dan perlindungan kehidupan, sedangkan Sang Hyang Batara Baruna berkaitan erat dengan kemahakuasaan Tuhan atas samudra dan air.

BACA JUGA  Termasuk Tingkatan Yang Mana Puasa Kita Tahun Ini....??

Pemujaan tersebut menjadi landasan spiritual bagi umat untuk memohon anugerah amertha, keseimbangan unsur alam, serta keberlangsungan sumber-sumber kehidupan. Laut menjadi ruang persembahyangan dan persembahan suci untuk menyampaikan permohonan agar anugerah air kembali membawa kesejukan, kesuburan, dan kesejahteraan bagi seluruh makhluk.

Ida Bhujangga Satya Dhama menjelaskan, Upacara Mapag Toya bertujuan memohon anugerah amertha berupa hujan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui laut. Harapannya, hujan segera turun pada waktu dan tempat yang tepat sehingga kekeringan berangsur berakhir dan kehidupan seluruh makhluk kembali memperoleh kesejahteraan.

“Melalui Upacara Mapag Toya ini, kami memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar mapaica amertha, menganugerahkan hujan melalui laut, sehingga dalam waktu dekat hujan dapat segera turun. Kami juga berharap aliran air di seluruh saluran irigasi kembali lancar dan membawa berkah bagi seluruh makhluk hidup,” ungkapnya.

Diawali Matur Piuning di Pura Giri Kawijayan

Rangkaian upacara diawali dengan matur piuning di Pura Giri Kawijayan, Ngajum, Kabupaten Malang. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan menghaturkan sarana banten Mapag Toya di kawasan Pantai Ngliyep.

Umat Hindu yang mengikuti upacara tersebut melaksanakan persembahan suci sebagai ungkapan syukur sekaligus permohonan agar alam kembali memperoleh kesejukan dan keseimbangan.

Menurut Ida Bhujangga Satya Dhama, air merupakan sumber kehidupan yang sangat penting bagi seluruh makhluk. Karena itu, pelaksanaan yadnya tidak hanya menjadi sarana memanjatkan doa, tetapi juga merupakan ungkapan rasa syukur atas kekuatan yang diberikan Tuhan dalam menghadapi musim kemarau.

“Bagi kita, air adalah sumber kehidupan. Kita senantiasa berdoa dan berusaha, sebab jika Ida Sang Hyang Widhi Wasa berkehendak, anugerah amertha akan diberikan untuk mendukung kehidupan dan kesejahteraan seluruh makhluk,” tuturnya.

Ia juga menegaskan bahwa pengabdian seorang Wiku tidak hanya diwujudkan melalui pelayanan ketika umat memohon tuntunan keagamaan, tetapi juga melalui kepekaan terhadap kondisi alam serta kesediaan mengambil langkah spiritual sesuai tuntunan tattwa dan Dharma.

Memperkuat Kepedulian terhadap Kelestarian Alam

Dalam pandangan tersebut, Upacara Mapag Toya menjadi bagian dari upaya menjaga keharmonisan hubungan antara manusia, alam semesta, dan Sang Pencipta. Yadnya ini sekaligus menjadi momentum bagi umat Hindu untuk meningkatkan sradha dan bhakti, serta melakukan introspeksi terhadap tanggung jawab manusia dalam merawat lingkungan.

Yayasan Gana Sidhi Sangkara bersama umat Hindu di Malang berharap pelaksanaan Upacara Dewa Yadnya Mapag Toya dapat memperkuat kebersamaan dan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan, terutama dalam menjaga sumber-sumber air dan merawat alam sebagai wujud pengamalan Dharma.

Melalui upacara tersebut, umat memohon agar hujan segera turun, kekeringan berangsur berakhir, aliran irigasi kembali lancar, serta sumber-sumber air tetap terjaga demi mendukung kesuburan dan kesejahteraan seluruh makhluk.

Doa yang dipanjatkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi Sang Hyang Batara Wisnu dan Sang Hyang Batara Baruna juga menjadi pengingat bahwa air dan alam merupakan anugerah suci yang harus dihormati, dijaga, dan dilestarikan bersama.

Penulis: Ramona

Editor: Redaksi

Views: 0

Verified by MonsterInsights