EDITORIAL, dutaperistiwa.com – Tak terasa saat ini kita sudah masuk di penghujung bulan suci Ramadhan 1445 H/2024, yang mana pada hari ini, senin (08/04/2024) kita sudah berada di hari ke-28 bulan suci Ramadhan. Selama perjalanan waktu mulai awal hingga akhir ibadah puasa kita di bulan suci Ramadhan tahun ini, pernahkah kita instropeksi diri atau bermuhasabah tentang apa-apa yang telah kita lakukan selama menjalani puasa di bulan suci Ramadhan tahun ini.
Dalam sebuah kitab bernama Dzurrotun Nashihin yang dikarang oleh Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakiri Al-Khubawi, disitu dijelaskan bahwa para ulama membagi puasa ini menjadi tiga tingkatan, yaitu Shoumul Awam, Shoumul Khowas dan Shoumu Khowashil Khowas.
Yang pertama yaitu Shoumul Awam, Shoumul Awam atau puasanya orang awam adalah seseorang yang menjalankan puasa di bulan suci Ramadhan hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban, yaitu dengan tidak makan dan minum serta tidak melakukan hubungan suami istri (jima’) di siang hari. Puasa seperti ini tetap sah namun dalam puasanya, seseorang tersebut tidak mendapatkan apa-apa selain hanya lapar dan dahaga, sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya :
كم من صآئم ليس له من صيامه الا الجوع والعطس
Artinya “Berapa banyak orang yang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dalam puasanya selain hanya lapar dan dahaga”.
Adapun tingkatan kedua yaitu Shoumul Khowas (puasanya orang khusus), puasa dalam tingkatan ini adalah seseorang yang melakukan ibadah puasa, dimana dalam ibadah puasanya selain tidak makan dan minum serta tidak melakukan hubungan suami istri (jima’) di siang hari, shoim (orang yang berpuasa) tersebut panca indranya juga turut berpuasa, dalam arti panca indranya tidak melakukan perbuatan yang tidak dibenarkan menurut syari’at, seperti tangan tidak mengambil sesuatu yang bukan hak nya, kaki tidak digunakan melangkah ke tempat maksiat, lisan menahan diri dari ucapan-ucapan kotor dan sebagainya. Puasa tingakatan ini adalah puasanya para auliya atau puasanya para wali Allah. Puasa seperti ini dalam ibadahnya tidak hanya sekedar ta’abbud tapi sedikit diatasnya termasuk kualitas ibadah tingakatan taqorrub (mendekat kepada Allah).
Adapun tingkatan puasa tertinggi adalah Shoumu Khowashil Khowas (puasanya orang khusus yang lebih khusus), dimana dalam tingkatan puasa ini, sang shoim (orang yang berpuasa) selain tidak makan minum dan tidak melakukan jima’ serta panca indranya juga turut berpuasa, ditambah hati juga ikut berpuasa, dalam artian hati tidak memikirkan sesuatu yang dilarang oleh agama, seperti menghindari beberapa penyakit hati diantaranya hasud (iri dengki), takabbur (sombong), thuulul amal (jauh angan-angan) serta beberapa penyakit hati lainnya. Puasa seperti ini menurut kitab Dzurrotun Nashihin adalah puasanya para anbiya dan mursalin atau puasanya para nabi dan rasul, serta tingkatan ibadah seperti ini sudah mencapai tingkatan yang tidak hanya sekedar ta’abbud ataupun taqorrub bahkan sudah mencapai tingakatan tahaqquq (hakikat) dalam pencapaian ibadahnya
Saudaraku para pembaca yang dirahmati Allah, di akhir tulisan ini, setelah kita mengetahui tiga jenis tingkatan kualitas berpuasa, tentunya kita dapat bermuhasabah diri, termasuk dalam tingkatan yang mana kualitas berpuasa kita, apakah termasuk Shoumul Awam, Shoumul Khowas ataukah Shoumu Khowashil Khowas?
Terakhir, saya atas nama pribadi serta segenap jajaran Redaksi dan Wartawan dutaperistiwa.com mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1445 Hijriyah, Mohon Maaf Lahir dan Batin, taqobbalallahu minna wa minkum taqobbal ya karim, kullu ‘aamin wa antum bikhoir, ja’alanallahu waiyyaakum minal ‘aa-idiin wal faa-iziin wal maqbuulin.
Penulis :
GUNAIDIK
– Pemimpin Redaksi dutaperistiwa.com
– Ketua DPD Ikatan Wartawan Online Indonesia Kabupaten Bojonegoro
– Sekretaris PAC GP Ansor Kecamatan Cepu tahun 2005-2015
– Sekretaris MPC Pemuda Pancasila 2019-2022






