BLORA, dutaperistiwa.com —
Bulan Ramadan 1447 Hijriah yang penuh harapan, optimisme, dan ampunan kembali menghadirkan nuansa kerukunan di Masjid Nurul Falah.
Kegiatan pencerahan jiwa melalui Kuliah Tujuh Menit (Kultum) telah menjadi tradisi tahunan yang rutin dilaksanakan setiap usai salat Isya dan Subuh berjamaah oleh Panitia Ramadhan Takmir Masjid Nurul Falah.
Pada Sabtu (21/2/2026), Kultum setelah salat Subuh diisi oleh KH A. Jajik S, Imam Utama Masjid Nurul Falah Perumnas Karangjati, Kelurahan Karangjati, Kabupaten Blora.
Ia mengangkat tema yang sangat esensial: “Peran Kegiatan Wudhu dalam Kehidupan Umat Islam”.
Dalam paparannya, KH A. Jajik S menjelaskan bahwa wudhu bukan sekadar rutinitas pembersihan diri sebelum salat, melainkan syarat sahnya ibadah tersebut.
Lebih dari itu, wudhu dapat dilakukan kapan saja saat seseorang merasa tidak suci atau hendak memulai aktivitas positif yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
KH A. Jajik S, mengupas tuntas Surat Al-Maidah ayat 6, yang menjadi landasan hukum tata cara menyucikan diri melalui wudhu, tayamum, dan mandi wajib.
Unsur-unsur penting dalam wudhu, mulai dari membasuh wajah, mencuci tangan hingga siku, mengusap sebagian kepala, hingga mencuci kaki sampai mata kaki, dijelaskan sebagai satu kesatuan ibadah yang utuh.
“Wudhu adalah jembatan yang menghubungkan kebersihan lahiriah dengan kesucian batiniah,” ujar KH A. Jajik S.
Secara spiritual, wudhu memiliki keutamaan luar biasa, di antaranya menggugurkan dosa-dosa kecil, menyejukkan hati, meredakan emosi, hingga menjadi tanda pengenal bagi umat Nabi Muhammad SAW di hari akhir kelak.
Sementara secara fisik, wudhu terbukti menjaga kesehatan kulit, melancarkan peredaran darah, memberikan kesegaran tubuh, serta efektif mengurangi stres dan kecemasan.
Menutup ceramahnya, ia mengajak seluruh jamaah untuk memanfaatkan momentum Ramadan ini dengan senantiasa menjaga wudhu secara benar agar dapat menjalankan salat dengan lebih khusyuk dan fokus.
Redaksi






