TUBAN I DUTA PERISTIWA – Semangat kebersamaan dan rasa syukur masyarakat Desa Wonosari, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban, kembali terlihat dalam pelaksanaan tradisi tahunan Sedekah Bumi yang digelar di Lapangan Haji Ramin, RT 09, Desa Wonosari, Kamis malam (11/06/2026). Meski sebagian warga mengalami gagal panen dan kondisi ekonomi tahun ini cukup berat, antusiasme masyarakat untuk melestarikan tradisi leluhur tetap tinggi.
Ratusan warga dari berbagai kalangan memadati lokasi kegiatan untuk mengikuti rangkaian acara Sedekah Bumi yang ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Tradisi tersebut menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas rahmat, rezeki, dan segala hasil bumi yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Sebelum pagelaran wayang kulit dimulai, panitia pelaksana terlebih dahulu menyampaikan laporan pertanggungjawaban dan penggunaan anggaran secara terbuka kepada masyarakat. Dana kegiatan diketahui berasal dari swadaya warga yang dikumpulkan secara gotong royong.
Ketua Panitia, Paulus, dalam sambutannya menjelaskan bahwa pelaksanaan hiburan tahun ini memang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal itu disesuaikan dengan kondisi ekonomi masyarakat yang sedang mengalami berbagai tantangan.
“Untuk hiburan pagelaran wayang kulit tahun ini memang berbeda dari tahun sebelumnya. Mengingat kondisi ekonomi masyarakat yang cukup sulit, kami menyesuaikan dengan anggaran yang tersedia. Yang terpenting kegiatan Sedekah Bumi ini tetap bisa terlaksana dan dapat dinikmati seluruh warga,” ujar Paulus.
Ia berharap tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut dapat terus dilaksanakan di masa mendatang dengan kondisi yang lebih baik.
“Kita berdoa dan terus berusaha, semoga tahun depan kita masih diberi kesempatan dan kondisi yang lebih baik untuk melaksanakan kegiatan ini,” tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Desa Wonosari, Widhiarto, menegaskan bahwa esensi Sedekah Bumi tidak terletak pada besar kecilnya biaya hiburan yang ditampilkan, melainkan pada nilai budaya, kebersamaan, dan rasa syukur yang terkandung di dalamnya.
“Ini bukan soal mahal atau murahnya hiburan. Wayang kulit hanyalah salah satu bagian dari rangkaian Sedekah Bumi. Tradisi ini merupakan warisan leluhur yang harus kita jaga dan lestarikan. Wayang kulit juga merupakan warisan seni budaya yang patut kita pertahankan. Keduanya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan,” ungkap Widhiarto.
Menurutnya, terlaksananya kegiatan Sedekah Bumi di tengah berbagai keterbatasan saat ini sudah menjadi bukti kuatnya semangat gotong royong masyarakat Desa Wonosari.
Tradisi Sedekah Bumi sendiri bukan sekadar seremoni tahunan. Lebih dari itu, tradisi ini merupakan bentuk penghormatan terhadap alam dan ungkapan syukur atas karunia Tuhan melalui hasil bumi yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Di tengah kondisi pertanian yang tidak selalu berpihak kepada petani, kekompakan warga Desa Wonosari dalam mempertahankan tradisi tersebut menjadi bukti bahwa nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur masih tetap terjaga. Semangat itulah yang menjadikan Sedekah Bumi bukan hanya sebuah perayaan budaya, tetapi juga perekat persaudaraan antarwarga dari generasi ke generasi. (Marlik)






