JEMBER, dutaperistiwa.com – Terinspirasi dari penggalan lirik lagu “Kidung” milik legenda Chrisye, “Tak selamanya mendung itu kelabu, nyatanya hari ini kulihat begitu ceria,” pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora melakukan ikhtiar nyata.
Pada Sabtu Legi, 9 Mei 2026, rombongan yang dikomandani oleh Drs. H. Sunoto berangkat menuju Padepokan HM Arum Sabil di Krajan, Tanggul Kulon, Kecamatan Tanggul, Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Meski harus menempuh perjalanan darat lebih dari 8 jam menggunakan Inova, rombongan yang terdiri dari tujuh orang ini tetap semangat.
Angka tujuh (pitu) bagi masyarakat Jawa diyakini sebagai simbol pitulungan (pertolongan), dengan harapan kunjungan ini menjadi jalan keluar bagi persoalan petani tebu di Blora.
Rombongan diterima langsung secara kekeluargaan oleh HM Arum Sabil, tokoh pertanian nasional yang dikenal jawani, bijaksana, dan penuh perhatian terhadap wong cilik.
H. Sunoto membuka pertemuan dengan ucapan puji syukur dan terima kasih atas sambutan hangat yang penuh kasih sayang dari sang tuan rumah.
Dalam pertemuan tersebut, Ketua APTRI menyampaikan tiga poin utama yang menjadi keluh kesah petani.
Kegagalan Giling PT GMM : Saat ini lahan tebu di Blora mencapai lebih dari 8.000 ha dan telah memasuki musim panen. Namun, Pabrik Gula (PG) PT GMM Bulog tidak beroperasi pada musim giling 2026 akibat kerusakan berat pada dua buah boiler. Petani menuntut janji Dirut Perum Bulog untuk tetap membeli tebu petani hasil panen 2026 (franko pabrik) dengan harga sesuai ketentuan pemerintah.
Renovasi Pabrik: Mengingat PG PT GMM adalah urat nadi ekonomi Blora, petani memohon agar segera dilakukan renovasi total agar pabrik tidak mangkrak dan menjadi “KO” (Kerajaan Oka-Oka).
Reformasi Manajerial: Mendesak adanya reformasi total pada jajaran manajerial internal PT GMM Bulog. Saat ini, kondisi di lapangan memprihatinkan; petugas tidak tetap sudah dirumahkan, petugas tetap dialih tugas ke luar kota, dan hanya tersisa petugas keamanan (Satpam) yang menjaga pabrik.
Sekretaris APTRI yang juga mantan anggota DPRD Blora, Anton Sudibdyo, menambahkan informasi mengenai penderitaan petani yang sudah tujuh tahun terpuruk akibat salah kelola manajemen. Ia mencontohkan tragedi giling 2025, di mana penghentian mendadak secara sepihak oleh manajemen mengakibatkan kerugian petani mencapai lebih dari Rp500 miliar.
“Sekitar 30.000 petani tebu trauma dan bingung harus menjual hasil panen ke mana,” ujar Anton.
Ia menegaskan bahwa aspirasi yang ia sampaikan pada HUT HKTI ke-53 di Jakarta sebelumnya bukanlah tindakan anarkis, melainkan bentuk penyampaian realita atas motivasi Wakil Menteri Pertanian RI untuk mencari solusi di “tempat yang terang”.
Menanggapi hal tersebut, HM Arum Sabil merespons secara bijaksana. Beliau berpesan agar para petani menyampaikan aspirasi dengan sopan dan beretika.
Di tengah situasi saat ini, dibutuhkan orang-orang dengan integritas tinggi dan pengendalian diri yang baik.
Arum Sabil menegaskan kesiapannya untuk mendampingi pengurus APTRI dan petani tebu Blora menghadap para pengambil kebijakan di tingkat pusat. Komitmen ini menjadi penyejuk hati bagi rombongan yang hadir.
Setelah diskusi, rombongan diajak menikmati hidangan “Empat Sehat Lima Sempurna” dan berkeliling padepokan menggunakan mobil odong-odong yang disetir langsung oleh HM Arum Sabil.
Di sana, mereka melihat kesuksesan pengelolaan berbagai varian buah nusantara—mulai dari pisang, durian, hingga edamame—serta peternakan dan perikanan yang dikelola secara profesional.
Bambang Sulistya, salah satu anggota rombongan, menilai Padepokan Arum Sabil adalah tempat yang tepat untuk menambah wawasan kebangsaan, menghibur diri, sekaligus mencari motivasi bagi mereka yang sedang memperjuangkan nasib kaum lemah.
Kunjungan ini diakhiri dengan harapan besar agar kesejahteraan petani tebu di Kabupaten Blora segera terwujud.
Dua Bangunan Ikonik
Padepokan H. Arum Sabil di Tanggul, Jember, menyuguhkan sesuatu yang sangat berbeda.
Bukan hanya tempat tinggal, melainkan kompleks agrowisata, pendidikan, konservasi, dan pelatihan masyarakat seluas 65 hektare.
Lahan ini mencakup berbagai fasilitas seperti kebun buah-buahan, lahan pertanian, peternakan, kolam ikan, serta gedung pelatihan dan sekolah.?
Dilansir dari Ketik.com, terdapat dua bangunan ikonik yang dijuluki sebagai Istana Negara karena desain arsitekturnya yang menyerupai Istana Kepresidenan di Jakarta.
Kedua bangunan ini tidak hanya megah secara visual, tetapi juga memiliki fungsi strategis dalam bidang pendidikan dan pelatihan masyarakat.
1. Gedung P4S Taruna Bhumi
Gedung ini merupakan pusat dari Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Taruna Bhumi, yang didirikan oleh H.M. Arum Sabil sejak tahun 1999.
Bangunan ini diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, pada 6 Desember 2023.
Desainnya yang megah dan menyerupai Istana Negara mencerminkan komitmen terhadap ketahanan pangan dan pelatihan pertanian berkelanjutan.
2. Gedung Sekolah Pelita Hati
Gedung kedua adalah Sekolah Pelita Hati, sebuah sekolah internasional yang terletak di kawasan Jember City Forest and Farm, tepatnya di Jalan Koptu Berlian Nomor 88 A, Kecamatan Sumbersari.
Bangunan sekolah ini didesain menyerupai Istana Negara, lengkap dengan tiang-tiang besar dan lambang Garuda di fasadnya.
Sekolah ini mengusung konsep edukasi alam, mengintegrasikan kurikulum akademik dengan kegiatan pertanian dan konservasi lingkungan.
Redalso






