BLORA, dutaperistiwa.com – Musibah banjir yang melanda wilayah Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, pada Jumat malam (10/4/2026), menyisakan duka mendalam. Seorang warga dilaporkan meninggal dunia diduga akibat tersengat listrik saat membersihkan rumah pasca banjir.
Korban diketahui bernama Diana Rosita (48), warga Kelurahan Ngelo. Informasi yang dihimpun menyebutkan, korban merupakan staf keuangan di Perum Perhutani KPH Padangan. Ia diduga tersetrum saat mulai membersihkan rumahnya ketika air banjir berangsur surut.
Peristiwa banjir sendiri dipicu oleh luapan Sungai Ngareng dan Sungai Tamansiswa setelah hujan deras mengguyur wilayah Cepu dan daerah hulu selama beberapa jam.

Anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Blora, Agung Triyono, mengungkapkan bahwa banjir mulai terjadi sekitar pukul 17.15 WIB.
“Hujan dengan intensitas cukup lama di wilayah Cepu dan hulu menyebabkan debit air meningkat hingga kedua sungai meluap dan merendam permukiman warga,” ujarnya.
Data yang dihimpun BPBD Kabupaten Blora mencatat, di Kelurahan Cepu sedikitnya 125 rumah terendam dengan ketinggian air berkisar antara 30 hingga 100 sentimeter. Sementara di Kelurahan Balun, sekitar 25 rumah terdampak dengan ketinggian air mencapai 50 hingga 125 sentimeter akibat luapan Sungai Tamansiswa.
Genangan juga meluas ke Kelurahan Karangboyo dengan ketinggian air 50 hingga 100 sentimeter, yang turut berdampak pada dua fasilitas pendidikan dan satu fasilitas umum.
Di Kelurahan Ngelo, lokasi tempat tinggal korban, banjir merendam permukiman warga dengan ketinggian 30 hingga 50 sentimeter. Sedangkan di Desa Mulyorejo, genangan setinggi 20 hingga 30 sentimeter sempat menutup ruas jalan provinsi Cepu–Singget serta menggenangi sebagian rumah warga.
Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Blora bergerak cepat melakukan asesmen, pendataan, serta membantu evakuasi warga terdampak. Koordinasi lintas instansi juga dilakukan untuk mempercepat penanganan di lapangan.
Meski banjir sempat merendam ratusan rumah, BPBD memastikan tidak ada warga yang mengungsi. Sebagian besar memilih bertahan dan melakukan pembersihan rumah secara mandiri.
“Hingga sekitar pukul 22.30 WIB, air sudah surut dan kondisi wilayah mulai kembali kondusif,” tambah Agung.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap potensi bahaya listrik pasca banjir, terutama saat melakukan aktivitas pembersihan di lingkungan yang masih basah dan berisiko. (Goen)






