BLORA, dutaperistiwa.com – Tradisi tahunan Sedekah Bumi di Desa Jurangjero, Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora, berlangsung meriah dan penuh antusiasme masyarakat, Kamis (30/04/2026). Kegiatan ini digelar serentak di empat titik sakral, yakni Sendang Duwur, Sendang Mbah Sariyem, Sendang Mbah Bogik, serta di depan rumah Kepala Desa Jurangjero, Suwoto.
Suasana khidmat terasa saat prosesi doa bersama (hajat) berlangsung. Menariknya, pelaksanaan ritual di Sendang Duwur memiliki keunikan tersendiri. Empat gunungan setinggi sekitar 170 cm menjadi daya tarik utama. Bahkan sebelum doa selesai, warga yang sudah tak sabar langsung berebut gunungan tersebut. Akibatnya, salah satu gunungan roboh dan sempat menimbulkan kepanikan karena beberapa warga tertimpa. Meski begitu, situasi segera terkendali.
“Gunungan yang tinggi ini melambangkan bahwa masyarakat Jurangjero tinggal di wilayah perbukitan dataran tinggi,” ujar salah satu warga.
Sebagai bentuk pelestarian budaya, Kepala Desa Jurangjero, Suwoto, menghadirkan pagelaran seni kethoprak “Mustiko Budoyo” yang dipimpin oleh Pandi dari Desa Tempuran. Pentas seni tersebut digelar di depan kediaman kepala desa dan sukses menyedot perhatian warga, baik dari dalam maupun luar desa.
Area pertunjukan dipadati penonton serta pedagang yang turut meramaikan suasana. Meski diguyur hujan cukup deras, antusiasme masyarakat tak surut. Penonton tetap bertahan sambil mencari tempat berteduh demi menikmati jalannya pertunjukan.
Dalam kesempatan tersebut, Suwoto menegaskan bahwa kegiatan Sedekah Bumi merupakan tradisi turun-temurun yang harus terus dilestarikan.
“Momentum ini kami adakan setiap tahun sebagai bentuk nguri-uri budaya warisan leluhur, sekaligus melestarikan seni Jawa seperti kethoprak Mustiko Budoyo yang sudah dikenal masyarakat Blora,” tegasnya.
Acara ini juga dihadiri oleh Wakil Bupati Blora Sri Setyorini, Camat Bogorejo beserta jajaran, Kapolsek dan anggota, Danramil, tokoh masyarakat, serta tamu undangan lainnya.
Pagelaran kethoprak dengan lakon “Suminten Edan” semakin menyemarakkan suasana. Meski hujan turun, cerita yang disajikan mampu menghibur dan menghangatkan suasana, membuat penonton tetap bertahan hingga akhir pertunjukan.
Sedekah Bumi Jurangjero tahun ini tak hanya menjadi ajang ritual adat, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan dan hiburan rakyat yang memperkuat nilai budaya serta kearifan lokal di tengah masyarakat. (Jono)






