BLORA, dutaperistiwa.com – Warga kedua desa di wilayah Ring 1 di Kecamatan Sambong Kabupaten Blora kali ini benar-benar membuktikan tantangannya dengan memblokade jalan Sambong – Ledok sebagai jalur utama lintasan kendaraan yang keluar masuk dari dan menuju SP Ledok milik PT Pertamina EP Cepu.
Sebanyak 3 (tiga) unit kendaraan berupa 1 mobil double cabin, 1 mobil pick up dan 1 truck tangki milik PT. Ramai Jaya Abadi (RJA), salah satu subkon PT Pertamina dihentikan oleh puluhan pemuda asal Desa Sambong dan Pojokwatu, Kamis (25/04/2024).

Aksi blokade jalan yang dikomandoi Nyono (50) warga Rt. 002/001 Desa Sambong yang dimulai sejak pukul 09.00 wib ini sempat membuat jalanan sepanjang Sambong – Ledok ini macet, namun tetap berlangsung damai dan kondusif.
Dari pantauan awak media ini di lapangan, sebanyak puluhan pemuda dari kedua desa Sambong dan Pojokwatu tampak ikut dalam aksi ini dan puluhan aparat keamanan baik dari Polsek dan Koramil Sambong serta Satpol PP Kecamatan Sambong tampak terlihat berjaga-jaga dalam aksi blokade jalan ini.
Setelah berlangsung agak lama, akhirnya dari pihak Petrowell selaku salah satu subkon dari PT Pertamina EP Cepu mencoba menemui para peserta aksi di Kantor Desa Sambong dan melakukan negosiasi dengan beberapa peserta aksi bersama Kapolsek Sambong, Danramil Sambong, Kasi Trantib Kecamatan Sambong dan Kepala Desa Sambong.
Dalam negosiasi, Evi perwakilan dari Petrowell mengatakan bahwa dirinya mohon maaf jika selama ini pihaknya kurang berkoordinasi dengan pemdes setempat. Adapun terkait pekerjaan rig hoist yang kemarin sempat menjadi kecemburuan di kalangan warga desa ini memang kita rekrut perwakilan dari masing-masing wilayah Pertamina mulai Banyuurip, Kawengan, Wonocolo hingga Nglobo dan Ledok.

“Saya atas nama PT Petrowell mohon maaf jika selama ini ada miskomunikasi dan kurang berkoordinasi dengan pemerintah desa disini, karena memang untuk pekerjaan rig hoist yang sempat menjadi bahan perbincangan adalah masing-masing 1 orang sesuai kewilayahan SP Pertamina mulai Kawengan, Banyuurip hingga Ledok dan Nglobo. Tapi saya berjanji untuk lowongan pekerjaan ke depan, mungkin nanti ada lowongan house keeping saya akan melibatkan pemdes dan warga disini. ” Jelas Evi.
Jayusman (56), yang ikut dalam negoisasi tersebut mengatakan bahwa negoisasi ini tidak akan menemukan titik temu tanpa kehadiran Humas Pertamina, karena menurutnya sejak 10 tahun lebih dalam setiap ada lowongan pekerjaan di Pertamina meski lewat subkon nya warga disini sama sekali tidak pernah mendapat kesempatan.
“Mestinya negosiasi ini bisa menghadirkan Sony selalu humas PT Pertamina EP Cepu, karena ketika saya menanyakan ke Humas terkait peluang pekerjaan dirinya menjawab selalu koordinasi dengan kepala desa setempat, namun ketika saya konfirmasi ke kepala desa dijawab bahwa selama ini sudah puluhan tahun kepala desa tidak pernah mendapatkan informasi apapun terkait peluang pekerjaan di lingkungan Pertamina, “jawab Mbah Jay, panggilan akrab Jayusman menanggapi pernyataan Evi.
Sementara itu, di tempat yang sama, Kepala Desa Sambong, Nyusito menanyakan kepada perwakilan PT Petrowell, ” Intinya dari warga disini Desa Sambong dan Pojokwatu kira-kira bisa kerja ngga di lingkungan Pertamina? Kalau bisa kita buat perjanjian hari ini, kalau ngga bisa kita tutup saja pertemuan kali ini, “ucap Nyusito kesal, sambil keluar dari ruangan musyawarah.
Dari peserta aksi blokade jalan, para pemuda warga desa Sambong dan Pojokwatu berharap bahwa masih ada kesempatan untuk warga kedua desa ini, agar warga juga bisa menikmati manfaat adanya pekerjaan disini, tapi kalau memang tidak ada kata sepakat hari ini, maka kita akan tetap akan melakukan aksi ini, ucap para peserta aksi kompak.
Hingga berita ini ditulis, masih dilakukan negosiasi antara kontraktor dengan beberapa peserta aksi (Kirman)






