Penulis :
RISKA NUR SUCI AYU, S.ST., M.Gz
(Dosen Prodi D3 Gizi – Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang)
EDITORIAL, dutaperistiwa.com – Tuberculosis (TB) merupakan salah satu penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme yaitu Mycobacterium tuberculosis. Tuberculosis dapat menyebabkan kondisi malnutrisi. Malnutrisi dapat ditandai dengan penurunan komposisi tubuh yang dapat disebabkan adanya gangguan fungsi gastrointestinal seperti anoreksia, dan penyerapan zat gizi yang terganggu akibat peradangan. Malnutrisi atau kekurangan zat gizi dapat mengubah farmakokinetik dan farmakodinamik obat TB dan dapat mengakibatkan kegagalan pengobatan atau peningkatan toksisitas. Sehingga kondisi ini dapat meningkatkan risiko perkembangan penyakit TB yang berkelanjutan dan meningkatnya resistensi obat TB.
Kondisi malnutrisi pada penderita TB dapat diketahui dengan skrining gizi sebagai leangkah awal untuk deteksi dini risiko malnutrisi dengan beberapa pertanyaan sebagai indikator penilaian, diantaranya :
1. Nafsu Makan
Nafsu makan sebagai indikator untuk menilai, adakah perubahan nafsu makan penderita TB dari sebelum terdiagnosis hingga didiagnosis TB oleh tenaga kesehatan. Pada penderita TB menyebabkan adanya peningkatan metabolisme dan penurunan nafsu makan yang memperparah kondisi kekurangan gizi yang sudah ada.
2. Asupan Makan
Asupan makan berkaitan dengan jumlah atau banyaknya makanan yang dikonsumsi oleh seseorang. Pada penderita dengan adanya peradangan akibat infeksi dari virus, maka perlu adanya peningkatan jumlah makanan dengan jenis bahan makanan tertentu. Apabila pada penderita TB terjadi penurunan jumlah makanan yang dikonsumsi jika dibandingkan saat sebelum dinyatakan TB, maka indicator ini menjadi salah satu adanya risiko malnutrisi.
3. Penurunan Berat Badan
Penurunan berat badan dalam jangka 3 bulan terakhir dapat terjadi pada penderita TB, hal ini dapat terjadi akibat metabolisme tubuh yang meningkat akibat adanya penggunaan simpanan zat gizi tubuh untuk melawan infeksi dalam tubuh. Penurunan ini juga dapat terjadi karena adanya perubahan nafsu makan dan asupan makan dalam jangka waktu yang lama. Hal ini juga dapat dilakukan dengan penilaian Indeks Massa Tubuh (IMT). Apabila hasil penilaian IMT ≤ 18,5 kg/m2 dan adanya perubahan nilai IMT jika dibandingkan sebelumnya maka memiliki risiko tinggi malnutrisi.
Ketiga indikator diatas menjadi penilaian utama yang dapat digunakan pada penderita TB untuk mendeteksi risiko malnutrisi. Apabila salah satu indikator penilaian mengalami perubahan maka penderita tersebut memiliki risiko terjadinya malnutrisi. Skrining malnutrisi dan penilaian sistematis status gizi dilakukan saat terdiagnosis dan secara teratur (setiap 4 minggu) selama pengobatan TB. Skrining gizi secara sistematis harus mencakup riwayat dan pemeriksaan yang berorientasi pada gizi, penilaian antropometri, dan penilaian terkait pengaturan diet yang dapat didukung dengan pemeriksaan laboratorium.




