REDAKSIONAL, dutaperistiwa.com – Bulan Rajab merupakan salah satu bulan mulia dalam kalender Hijriyah yang sarat dengan nilai spiritual dan peristiwa agung dalam sejarah Islam. Salah satu peristiwa paling monumental yang terjadi di bulan Rajab adalah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, sebuah perjalanan spiritual yang tidak hanya menjadi mukjizat kenabian, tetapi juga sarat hikmah dan pelajaran bagi umat Islam hingga akhir zaman.
Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina (Isra’), kemudian dilanjutkan naik menembus langit hingga Sidratul Muntaha (Mi’raj). Peristiwa ini terjadi dalam satu malam, di saat Rasulullah SAW tengah menghadapi masa-masa berat dalam perjuangan dakwah, yang dikenal sebagai ‘Aamul Huzni atau tahun kesedihan.

Dalam Kitab Dzurrotun Nasihin, karya ulama besar Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir Al-Khubawi, dikisahkan bahwa perjalanan Isra’ Mi’raj merupakan bentuk kemuliaan dan penghiburan langsung dari Allah SWT kepada Rasulullah SAW. Setelah menghadapi penolakan, cacian, dan penderitaan dari kaumnya, Allah mengangkat derajat Rasulullah dengan memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya di langit dan bumi.
Kitab tersebut juga menuturkan bagaimana Rasulullah SAW diperlihatkan berbagai keadaan umat manusia di alam akhirat, mulai dari orang-orang yang mendapatkan nikmat karena ketaatannya, hingga mereka yang mendapat siksa akibat kelalaian terhadap perintah Allah. Kisah-kisah ini menjadi peringatan keras sekaligus pelajaran moral agar umat Islam senantiasa menjaga iman, shalat, dan akhlaknya.
Puncak dari peristiwa Mi’raj adalah ketika Rasulullah SAW menerima perintah shalat lima waktu secara langsung dari Allah SWT, tanpa perantara malaikat Jibril. Hal ini menunjukkan betapa agung dan pentingnya shalat sebagai tiang agama dan sarana utama komunikasi spiritual antara hamba dengan Rabb-nya, sehingga Nabi Muhammad SAW bersabda dalam sebuah haditsnya,
“awwalu maa yuhasabu bihil ‘abdu yaumal qiyamah assholah, fa-in sholuhat sholuha saa-iro ‘amalih, wa-in fasadat fasada saa-iro ‘amalih” (Kelak pada hari kiyamat nanti amalan yang pertama dihisab/dihitung pada diri seorang hamba adalah sholat, jadi jika sholatnya baik, maka baik pula seluruh amal yang lain, dan jika sholatnya rusak/jelek, maka rusak/jelek pula amalan yang lain).
Hikmah Rajabiyah dari peristiwa Isra’ Mi’raj bukan sekadar mengenang kejadian sejarah, melainkan meneladani nilai-nilai keteguhan iman, kesabaran dalam ujian, serta pentingnya menjaga hubungan vertikal dengan Allah SWT melalui ibadah yang ikhlas dan konsisten.
Di tengah tantangan kehidupan modern yang kian kompleks, Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa solusi dari berbagai persoalan hidup tidak semata bersifat material, tetapi juga membutuhkan kekuatan spiritual. Shalat yang khusyuk, akhlak yang baik, serta keikhlasan dalam beramal menjadi kunci utama untuk meraih pertolongan dan keberkahan dari Allah SWT.
Momentum Rajab 1447 Hijriyah ini hendaknya menjadi ajang muhasabah bagi umat Islam untuk memperbaiki kualitas iman dan ibadah, serta meneladani perjalanan spiritual Rasulullah SAW sebagai pedoman hidup menuju keselamatan dunia dan akhirat.
Penulis: GUNAIDIK (Pemred dutaperistiwa.com, mantan Sekretaris PAC GP Ansor Kecamatan Cepu selama hampir dua dekade)






