MALANG, dutaperistiwa.com – Rencana sederhana bertajuk Syawalan Budayawan Kota Malang yang awalnya hanya dimaksudkan sebagai ajang kumpul santai dan temu kangen, justru berkembang menjadi ruang diskusi penuh makna. Kegiatan yang sedianya hanya diisi dengan suasana “sak onoke, sak iso e” antar sedulur ini akhirnya berubah menjadi forum curahan hati warga terhadap berbagai persoalan di Kota Malang.
Dalam suasana khas kebersamaan, para peserta awalnya hadir dengan konsep sederhana: siapa punya kopi, membawa kopi; yang punya hasil bumi, membawa polo pendem; hingga yang mampu membuat tumpeng pun turut berbagi. Semua dilakukan dengan kesadaran dan semangat seduluran yang kental.
Namun di balik kehangatan itu, muncul gelombang “ngudoroso” atau ungkapan isi hati dari berbagai kalangan. Mulai dari persoalan drainase, biaya pendidikan, layanan publik, hingga isu yang sedang ramai diperbincangkan seperti “klambi ala kompeni”, menjadi topik yang mengemuka. Tak hanya dari kalangan tua, generasi muda pun turut menyuarakan kegelisahan dan kekecewaan mereka terhadap kondisi kota.
Sorotan tajam juga mengarah pada kepemimpinan di Kota Malang yang dinilai mulai kehilangan empati dan rasa teposeliro. Bahkan, muncul kesan bahwa sebagian pemimpin lebih berperilaku sebagai penguasa ketimbang pelayan masyarakat.
Berangkat dari dinamika tersebut, para budayawan dan tokoh masyarakat akhirnya sepakat menggelar forum yang lebih serius bertajuk “Rembug Mbeber Kloso”. Kegiatan ini bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan ruang terbuka bagi warga untuk menyampaikan aspirasi, kegelisahan, dan harapan mereka terhadap Kota Malang.
Hasil dari forum ini nantinya akan dirangkum sebagai “gentong ngudoroso” yang berisi suara rakyat, untuk kemudian disampaikan kepada para pemangku kebijakan, termasuk Wali Kota Malang, Ketua DPRD, dan pihak terkait lainnya. Harapannya, suara tersebut dapat didengar dengan hati nurani yang terbuka.
Adapun kegiatan Rembug Mbeber Kloso telah dilaksanakan pada hari Minggu (5/4/2026), yang dimulai sejak pukul 19.30 dan diadakan di Parkiran Lapangan Gajayana (Belakang MOG/Kolam Renang).
Sejumlah tokoh budayawan yang hadir menjadi pemantik diskusi dalam Rembug Mbeber Kloso, di antaranya Mbah Priyo, Ebes Kolik Nuriadi, Ki Ardhi Dalang, hingga Mbah Jo Wayang Suket, bersama tokoh masyarakat lainnya.
Kegiatan yang bersifat terbuka dan masyarakat umum pun banyak yang hadir. Dan dalam forum tersebut, banyak masyarakat yang hadir turut menyampaikan pendapatnya. Semangat yang diusung adalah kebersamaan, kepedulian, serta kecintaan terhadap Kota Malang.
“Monggo hadir, nderek mbeber kloso. Monggo ngudoroso, nderek among roso. Kabeh sedulur, kudune iso akur,” demikian ajakan dalam undangan terbuka yang disampaikan oleh Wahyu Eko Setiawan (Sam WES), atas mandat para sesepuh dan tokoh budayawan Kota Malang.
Salam budaya pun mengiringi undangan tersebut, dengan harapan kebersamaan dan keharmonisan warga tetap langgeng.

Sementara itu Kholik Nuriadi menyampaikan, dirinya merasa kurang srek dengan SK Walikota yang telah menentukan Baju adat Kota Malang yang dipakai saat hari jadinya yang ke 112, menurutnya saat penentuan seharusnya melibatkan masyarakat dan mengundang para Budayawan yang berkompeten dalam merumuskan pakaian sesuai dengan jati diri yang identik dengan Singosari dan Kanjuruhan.

Ditempat yang sama, Taufik Sugianto yang juga merupakan aktivis dan Seniman asal Kota Malang juga menolak keras dengan kebijakan yang menurutnya menciderai hati masyarakat Kota Malang. Dirinya dengan lantang dan tegas agar SK Walikota tentang penetapan pakaian adat Malang harus di cabut.






