OPINI, dutaperistiwa.com – Mudik Lebaran, momen sakral bagi jutaan orang Indonesia untuk pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga, seringkali diwarnai oleh permasalahan klasik: kemacetan. Ironisnya, di tengah kepadatan dan kesulitan yang dialami masyarakat luas, terlihat pemandangan pejabat yang menggunakan mobil dinas (Mobdin) untuk mudik. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar tentang “sense of humanity” para pejabat tersebut.
Kemacetan lalu lintas selama mudik bukan hanya sekadar ketidaknyamanan, melainkan juga potensi bahaya dan kerugian ekonomi bagi masyarakat. Ribuan orang menghabiskan waktu berjam-jam di jalan, mengalami kelelahan fisik dan mental, serta potensi kerugian akibat terlambat sampai tujuan. Di tengah situasi ini, pejabat yang menggunakan mobil dinas untuk mudik justru menunjukkan ketidakpedulian dan minimnya empati terhadap kesulitan yang dialami rakyat.
Penggunaan mobil dinas, yang seharusnya diperuntukkan untuk kepentingan negara dan pelayanan publik, untuk kepentingan pribadi saat mudik merupakan tindakan yang tidak etis dan tidak bijaksana. Hal ini menunjukkan kesenjangan yang besar antara pejabat dengan rakyat, di mana pejabat tampak lebih memilih kenyamanan pribadi daripada berempati terhadap kesulitan yang dialami masyarakat.
Lebih lanjut, penggunaan mobil dinas untuk mudik juga menimbulkan pertanyaan tentang efisiensi dan penggunaan anggaran negara. Apakah penggunaan mobil dinas untuk keperluan pribadi ini sesuai dengan aturan dan peraturan yang berlaku? Apakah hal ini merupakan bentuk penyalahgunaan wewenang dan anggaran negara? Bahkan hal ini telah diatur dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 87 Tahun 2025 tentang Pedoman Efisiensi dan Disiplin PNS.
Oleh karena itu, penggunaan mobil dinas (Mobdin) untuk mudik Lebaran harus dipertanyakan dan dihentikan. Pejabat harus memberikan contoh yang baik dengan menunjukkan empati dan kepedulian terhadap rakyat. Mudik Lebaran seharusnya menjadi momen untuk bersatu dan berbagi, bukan untuk menunjukkan kesenjangan dan ketidakpedulian. Semoga ke depan, pejabat dapat lebih bijak dan berempati dalam menggunakan mobil dinas dan menunjukkan “sense of humanity” yang sejati.
Penulis : GUNAIDIK (Ketua DPD IWO Indonesia Kabupaten Bojonegoro)






