Opini  

Abaikan Adab dan Etika, Integritas Kepemimpinan Kian Runtuh di Mata Rakyat

OPINI, dutaperistiwa.com – Adab dan etika sejatinya merupakan pondasi moral dalam kepemimpinan, mencakup nilai keadilan, kejujuran, tanggung jawab, amanah, serta mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi. Namun, nilai-nilai tersebut kini dinilai semakin tergerus dalam praktik demokrasi di Indonesia.

Menurut penulis, hilangnya adab dan etika dari jiwa sebagian pemimpin bangsa saat ini sudah berada pada tahap yang miris, ironis, bahkan kronis. Fenomena ini tercermin dari maraknya perilaku koruptif, tindakan tidak terpuji, hingga penyalahgunaan kekuasaan di tengah rakyat yang masih kesulitan mewujudkan cita-cita hidup adil, makmur, dan sejahtera sebagaimana diimpikan para pendiri bangsa.

“Darurat adab dan etika para pemimpin adalah persoalan bangsa yang sangat serius. Tanpa adab, pemimpin tidak akan mampu bertanggung jawab secara jujur dalam menjalankan amanah. Tanpa etika, pemimpin juga tidak akan bisa membangun karakter bangsa yang bermoral, damai, dan sejahtera,” ungkap penulis dalam opininya.

BACA JUGA  OPINI : Degradasi Adab, Etika dan Moral Ancaman Serius Bagi Kesatuan dan Persatuan Bangsa

Ia menilai gagalnya pemimpin menegakkan adab dan etika menjadi kendala besar yang memperkeruh perjalanan bangsa dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Padahal, demokrasi Pancasila menempatkan adab dan etika sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

BACA JUGA  Ketum IWO Indonesia Dukung Langkah Kejagung Usut Tuntas Korupsi Pertamina: “Jangan Ada Ampun untuk Pengkhianat Negara!”

Lebih jauh, penulis juga menyoroti sikap sebagian pemimpin yang kian jauh dari rakyat. Bahkan, rakyat seolah dianggap sebagai penghalang kekuasaan semata. “Banyak pemimpin merasa rakyat hanyalah kutu kupret yang tengil dan selalu menghalangi kehendak mereka,” tegasnya.

Padahal, lanjut penulis, berdirinya bangsa Indonesia bukan semata hasil kecerdasan atau suara lantang para pemimpin, melainkan berkat perjuangan dan pengorbanan rakyat. “Bangsa ini merdeka dengan darah dan nyawa rakyat. Karena itu, jangan sekali-kali melupakan jasa rakyat,” tambahnya.

BACA JUGA  STOP PRESS Wartawan Duta Peristiwa

Penulis pun mempertanyakan: setelah 80 tahun merdeka, mengapa rakyat masih sulit merasakan kesejahteraan? “Bukankah hidup sejahtera adalah hak rakyat? Mengapa janji itu belum terwujud hingga kini?” tulisnya, menutup opini dengan sindiran: “Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.”

Penulis : Marlik (Kabiro Tuban Media Duta Peristiwa) 

error: Content is protected !!
Verified by MonsterInsights